TANTANGAN SISWA DI ERA GLOBALISASI



Sebelum membaca tulisan ini, hendaknya anda mencari tempat yang nyaman, bacalah dengan pelan, santai, relaks, sambil menyadari irama napas anda yang beraturan seimbang seperti bagaimana alam ini tunduk beraturan kepada hukum alam. Terlebih dahulu buka pemikiran anda, agar semua pengetahuan yang akan anda baca dapat masuk, jauh kedalam pikiran anda.





Seperti yang kita ketahui, dewasa ini kita telah memasuki era globalisasi, era tanpa batas. Media informasi banyak bermunculan dari mulai media massa lokal ataupun nasional dan media elektronik seperti internet yg berisi berita berita elektronik yang kapan saja kita bisa temukan. Tentunya hal ini merupakan kemudahan sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan khususnya pelajar dan guru. Kemudahan jika kita bisa memanfaatkan semua media informasi yang ada untuk kegiatan belajar dan sebaliknya akan menjadi tantangan disaat kita belum siap untuk menghadapi era ini. Mengapa belum siap? Lihat keadaan disekeliling kita, terjadi banyaknya ketimpangan sosial. Kita bisa melihat sekolah sekolah di ibu kota dengan segudang fasilitas dan dilain pihak kita juga melihat sekolah sekolah dikabupaten yang fasilitasnya tidak sama dengan sekolah sekolah di ibu kota, bahkan bisa dibilang jauh tertinggal. Namun pemerintah seolah tidak mau tahu dan menutup mata akan masalah itu. Yang menjadi keputusan adalah siswa harus lulus dalam standar tertentu yang sama. Atau dalam kata lain pemerintah tidak mempermasalahkan soal fasilitas, yang penting siswa harus lulus dengan memenuhi standar tertentu yang telah ditetapkan. Jika kita membahas tentang kebijakan pemerintah tentu tidak akan ada habisnya. Mari mulai masuk keinti permasalahan, dalam era globalisasi tentu banyak sekali tantangan siswa untuk menghadapinya. Dan saya disini tidak akan membahas tentang tantangan tantangan siswa saja, saya yakin anda semua yang membaca, setuju jika saya katakan bahwa “tantangan siswa berarti tantangan guru juga”.

Banyak artikel yang membahas tentang tantangan siswa di era globalisasi hanya membahas dari sudut pandang fasilitas, keberadaan OHP, infokus, atau media belajar elektronik lainnya yang belum terpenuhi. Disini saya akan membahas sesuatu yang berbeda, memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda tentunya. Jika kita hanya membahas atau fokus pada fasilitas yang kurang memadai, tentunya hal ini akan berhenti pada kebijakan pemerintah akan anggaran pendidikan. Dewasa ini banyak kesalahan yang terjadi pada dunia pendidikan, karena memandang suatu hal yang sebenarnya bukan masalah namun dipermasalahkan. Kesalahan yang paling umum dan utama adalah ketika guru dan orangtua siswa menganggap Intelligence Quotient (IQ) adalah kecerdasan utama dan satu-satunya indikator kecerdasan manusia. Mengutip kata - kata Tika Bisono seorang psikolog terkenal, “ orangtua dengan dalih mengarahkan anak – anak ke jalur yang tepat demi masa depan mereka, cenderung membentuk anak menjadi jenius – jenius cilik dalam bidang eksakta”. Apabila anak tersebut memang lebih unggul dibidang eksakta tentu tidak menjadi masalah, namun jika ini terjadi pada anak yang potensinya lebih unggul dibidang non-eksakta, mereka akan merasa tertekan, kehilangan semangat belajar sehingga mereka akan cenderung malas sekolah atau bahkan berhenti. Yang perlu kita ketahui ada kecerdasan lainnya yang dikemukakan oleh Dr. Howard Gardner, seorang professor dalam bidang psikologi pendidikan. Kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistic, matematis-logis, visual-spasial, kinestetis-jasmani, musical, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Ya, untuk menambah pengetahuan saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kecerdasan-kecerdasan diatas.


JENIS-JENIS KECERDASAN

1. Kecerdasan Linguistik
Merupakan kecerdasan dalam menggunakan bahasa atau kata-kata secara efektif baik secara lisan ataupun tulisan. Kecerdasan ini antara lain meliputi kemampuan untuk berbicara, menulis, bercerita, mendengarkan, menganalisa tata bahasa, mengerti kata-kata dan nuansa makna kata, mengingat informasi, dan mampu meyakinkan orang lain. Kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk menangani struktur bahasa (sintaksis), suara (fonologi), dan arti (semantic).
Ciri-ciri, pandai berkomunikasi, gemar menulis, hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil.
Cara belajar yang efektif, membaca buku, merangkum dan cepat menangkap pelajaran yang disampaikan lewat penuturan.

2. Kecerdasan Matematis-logis
Merupakan kecerdasan dalam menggunakan angka-angka dan penalaran (logika). Kecerdasan ini meliputi kemampuan dibidang sains, mengklarifikasikan dan mengkategorikan informasi, berpikir dengan konsep abstrak untuk menemukan hubungan antara suatu hal dengan hal lainnya, dan memecahkan masalah secara logis terutama dalam bidang matematik.
Ciri-ciri, mampu menjelaskan secara logis, menghitung problem aritmatika cepat diluar kepala, suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya “mengapa hujan turun?”
Cara belajar yang efektif, menganalisis suatu hubungan atau masalah, mengajukan pertanyaan, dan eksperimen atau praktek.

3. Kecerdasan Spasial
Merupakan kecerdasan dalam berpikir baik secara dua dimensi maupun tiga dimensi. Kemampuan ini meliputi kepekaan akan bentuk dan ruang, misalnya dalam memahami arah, menemukan lokasi atau jalan, dan memperkirakan hubungan antar benda dalam ruang. Termasuk juga kemampuan untuk mengerti diagram dan grafik, membuat sketsa, menulis, melukis, mendesain dan menginterpretasikan gambar-gambar visual, serta memiliki kepekaan terhadap suatu warna dan garis.
Ciri-ciri, senang bermain dengan bentuk dan ruang seperti permainan puzzle, hafal sekali jalan-jalan menuju suatu tempat yang pernah dilewatinya, memiliki problem solving yang lebih baik dibandingkan anak lainnya, dan lebih memahami informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian.
Cara belajar yang efektif, teka teki, membaca gambar atau belajar yang dideskripsikan dengan gambar, dan menggambarakan secara visual segala sesuatu yang diperhatikan.

4. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan music adalah mengamati,membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk music. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi, dan ritme dari music yang didengar.
Ciri-ciri, suka memainkan alat music, bersenandung, mudah mengingat lagu, dan dapat belajar dengan iringan music.
Cara belajar yang efektif, mendengarkan, penjelasan atau kalimat yamg berirama, lebih memahami sesuatu yang berhubungan dengan nada.

5. Kecerdasan Kinestetis-jasmani
Merupakan kemampuan untuk menggerakan tubuh atau bergerak dengan ketepatan (presisi), bergerak untuk mengekspresikan ide-ide, dan perasaan emosi tertentu, serta kemampuan untuk menggunakan keterampilan tubuh. Kecerdasan ini meliputi kemampuan menari, olahraga, bahasa tubuh dan bermain peran.
Ciri-ciri, banyak bergerak ketika duduk atau mendengar sesuatu, aktif, pandai menirukan kebiasaan orang lain.
Cara belajar yang efektif, bermain peran, menyentuh objek secara langsung untuk dipelajari, dan mengamati gerakan-gerakan dalam proses pengajaran.

6. Kecerdasan Naturalis
Merupakan kecerdasan dalam memahami alam yang meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi perbedaan maupun persamaan ciri-ciri di antara spesies, baik flora maupun fauna.
Ciri-ciri, memiliki hewan peliharaan, suka berkebun, gemar bermain di luar rumah atau alam bebas.
Cara belajar yang efektif, jalan-jalan ke alam bebas, belajar ditaman (bukan didalam kelas), kegiatan kegiatan belajar yang berhubungan dengan alam.

7. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah suatu kemampuan untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap, kepribadian, dan karakter orang lain. Dengan menggunakan kecerdasan interpersonal, kita akan mampu mengamati perubahan kecil yang terjadi pada mood, perilaku, motivasi, dan perhatian orang lain.
Ciri-ciri, memiliki banyak teman, suka bersosialisasi, berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antar temannya dan menikmati pekerjaan mengajari orang lain.
Cara belajar yang efektif, diskusi kelompok, bertanya, dan bercerita atau menerangkan.

8. Kecerdasan Intrapersonal
Merupakan kecerdasan dalam mengerti dan memahami diri sendiri. Kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk merefleksikan diri, mengenal baik kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, menyadari perasaan, harapan, keinginan dan tujuan diri sendiri.
Ciri-ciri, memperlihatkan sikap independen, kemauan kuat dan rasa percaya diri yang tinggi.
Cara belajar yang efektif, belajar di ruangan tersendiri yang tenang, belajar berkelompok dan merenungkan serta mengulang materi belajar.

Setelah kita mengetahui berbagai macam jenis-jenis kecerdasan, tentu kita sebagai guru sekaligus orang tua lebih mengerti apa yang harus kita lakukan kepada anak-anak kita agar kegiatan atau proses belajarnya menjadi optimal, saya katakan sekali lagi “agar proses belajarnya OPTIMAL”. Bukan maksimal. Saya yakin anda mengerti apa yang saya maksud. Diatas adalah sedikit acuan bahwa era globalisasi bukan hal yang sulit untuk dihadapi jika kita mengerti jauh lebih dalam tentang dunia pendidikan. Dunia pendidikan bukan hanya soal dana, bukan hanya soal anggaran, dan bukan hanya soal fasilitas dari pemerintah. Tapi soal kualitas, sejauh mana kita mau mengubah pola pikir kita untuk lebih memahami zaman yang berkembang. Think out of the box, jangan hanya berpikir bagaimana cara agar anak didik atau anak kita semua dapat bekerja di suatu perusahaan BUMN, bekerja di BANK, menjadi PNS, atau pekerja-pekerja lainnya. Coba sekali saja anda berpikir anak anda bisa membuka perusahaan besar dengan karyawan yang banyak, menjadi pelukis terkenal atau olahragawan. Richard Bandler pencipta ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) berkata, “apa sebenarnya yang paling dicari orang dimuka bumi ini?” Melalui pengamatan yang sangat komprehensif dan kontemplatif maka ditemukan jawabannya, CHANGE. Ya, benar. Sesuatu hal yang paling dicari didunia adalah perubahan, perubahan menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih berpikiran terbuka dan lebih berinovasi. Coba anda pikirkan, jika semua orang hanya bercita-cita menjadi pegawai atau pekerja, tidak akan pernah lahir nama-nama besar seperti Soekarno, Khalil Gibran, Soichiro Honda, Deddy Corbuzier, David Beckham atau nama-nama lainnya. Saya mengutip kata-kata Khalil Gibran yang menurut saya sangat bermanfaat sekali jika saya tuliskan kembali, kira-kira seperti ini :

“Anakmu bukan anakmu. Mereka putra Sang Hidup yang rindu dirinya. Lewat engkau mereka lahir, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu. Beri mereka kasih sayang, tetapi jangan suapi pikirannya. Kau boleh menyerupai mereka, tetapi jangan paksa mereka menyerupaimu.”


Kembali pada proses belajar dan kecerdasan anak yang berbeda-beda jenisnya. Riset membuktikan bahwa manusia mampu mengingat :

• 20% dari sesuatu yang dibaca.
• 30% dari sesuatu yang didengar.
• 40% dari sesuatu yang dilihat.
• 50% dari sesuatu yang dikatakan.
• 60% dari sesuatu yang dikerjakan.
• 90% dari sesuatu yang kita lihat, dengar, katakan dan kerjakan sekaligus.

Saya yakin setelah anda membaca informasi-informasi diatas, anda sekarang telah mengetahui apa yang harus anda lakukan sebagai guru atau orang tua. Anda bisa mulai dengan mengubah gaya mengajar anda atau gaya mendidik anda sehingga sesuai dengan objek dan subjek yang anda ajarkan.

Tentu kita semua yakini bahwa pendidikan tidak hanya terjadi disekolah tapi juga terjadi dirumah dan lingkungan sekitar. Peran serta orang tua pun tidak luput dari perhatian saya. Pola prilaku orang tua dapat menjadi pendorong atau bahkan menjadi penghambat bagi kesuksesan anak atau siswa disekolah. Ada dua dimensi pola pengasuhan orang tua terhadap anak, parental responsiveness dan parental demandingness.


PARENTAL RESPONSIVENESS

Menurut Baumrind (dikutip dari Nancy, 1999 dan Steinberg, 2002), parental responsiveness adalah tingkatan bagaimana orang tua menyesuaikan diri, mendukung, dan menyetujui kebutuhuan khusus dan tuntutan anak. Parental responsiveness merupakan derajat tentang cara orang tua merespon terhadap kebutuhan anak dalam cara yang mendukung dan bersifat menerima. Parental responsiveness juga menunjukan level sensitivitas, dukungan, dan keterlibatan orang tua (Papps, 2002). Beberapa hal yang meliputi parental responsiveness meliputi kehangatan, hubungan timbal balik, komunikasi yang jelas, serta kedekatan orang tua dan anak. Kehangatan orang tua akan memotivasi anak untuk berpartisipasi secara kooperatif. Orang tua yang selalu menyediakan penjelasan akan membantu anak, khususnya remaja dalam menginternalisasi nilai nilai secara efektif (dikutip dari Chen & Wu, 2006). Tentunya orang tua berhak memberikan batasan batasan untuk anaknya dalam hal apapun, namun orang tua harus bersedia menjelaskan apa yang menjadi alasan mereka memberikan batasan tersebut, karena sekali lagi saya tekankan “sesuatu yang baik menurut saya, belum tentu baik pula untuk anda” , begitu juga dengan orang tua.


PARENTAL DEMANDINGNESS

Menurut Baumrind (dikutip dari Darling, 1999), parental demandingness yaitu tuntutan yang dibuat oleh orang tua terhadap anak dengan cara mendisiplinkan dan keinginan untuk menghadapi anak yang tidak patuh. Steinberg (2002) menyatakan bahwa parental demandingness merupakan derajat yang membuat orang tua mengharapkan dan menuntut tingkah laku yang bertanggungjawab dan dewasa dari anaknya. Baumrind (dikutip dari Blewitt & Broderick, 1999) menyatakan bahwa orang tua yang menekankan prestasi dan kedisiplinan membuat tuntutan pada anaknya, mereka membuat dan memaksakan suatu peraturan. Hal ini baik, namun sering sekali orang tua menggunakannya dengan SALAH, saya katakan sekali lagi, banyak orang tua yang SALAH dalam menerapkan parental demandingness.


Mindset dan pola pikir orang tua

Mungkin anda sering membaca slogan atau jargon yang bertuliskan, “sekolahkan diri anda sebelum menyekolahkan anak anda”. Ya, benar. Saya rasa slogan itu sudah sangat tepat untuk para orang tua zaman sekarang. Coba lihat, sekarang para orang tua berbondong bondong memasukan anak balitanya untuk belajar aritmatika atau les sempoa, dan berharap anaknya bisa menghitung seperti “kalkulator” setelah lulus dari tempat itu. Jangan terlalu serius, that’s jokes, hehehe. Ubah mindset anda sekarang juga atau anak anak anda akan berubah menjadi pribadi pribadi kalkulator, tanpa keceriaan, tanpa senyuman dan tanpa ekspresi tentunya. Saya yakin anda semua ingin yang terbaik untuk generasi penerus bangsa bukan? Perbaiki cara mendidik anda sebagai guru dan orang tua. Tidak ada salahnya jika setiap hari anda bertanya, “Nak, bagaimana pelajarannya? Bisa?”. Namun saya yakin keadaan atau kesehatan dan pengalaman anak anda lebih prioritas daripada itu. Jangan sampai anak anda berpikir, “kok, mama lebih peduli nilai matematika aku yah daripada keadaan aku?” padahal sepulang sekolah hampir saja anaknya tertabrak mobil saat menyebrang jalan. Jika anda melihat anak anda tersenyum dan dalam hatinya menangis karena merasa tidak lebih penting dari pelajarannya disekolah, apakah anda tega? Saya yakin, sebagian besar yang membaca tulisan ini sampai akhir akan berkata, “ya, saya akan berubah menjadi pribadi yang lebih perasa, saya tidak akan egois mencetak anak bangsa menjadi sesuatu yang tidak tepat, saya akan berusaha memfasilitasi dengan ilmu yang saya punya agar semua anak bisa mencapai cita citanya”. Jika semua orang tua dan guru bisa terbuka pikirannya, globalisasi bukan menjadi hal yang menakutkan, globalisasi justru awal bangkitnya bangsa Indonesia yang madani.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingat cerita Deddy Corbuzier di acara salah satu stasiun tv swasta, “jika anda mendapati anak anda mendapatkan nilai kurang memuaskan dalam pelajaran matematika dan mendapat nilai amat memuaskan dalam pelajaran ilmu sosial, apa yang anda lakukan? Ya, kebanyakan orang tua akan menjawab, saya ikutkan anak saya les matematika untuk memperbaiki kekurangannya. Ini tidak salah hanya KELIRU, mengapa bangsa Indonesia belum maju sampai sekarang? Karena kita hanya fokus pada hal hal yang tidak perlu. Think out of the box, this is reframing, memandang dari sudut pandang yang berbeda. Mengapa anda hanya fokus untuk memperbaiki kelemahan sehingga melupakan kelebihan? Apa anda pikir seorang david beckham pintar dalam matematika? Tidak bukan? Jika saya dalam kondisi demikian, saya akan memperbanyak buku buku tentang ilmu social agar anak saya dapat terus melatih kelebihannya untuk menjadi ‘keistimewaannya’ suatu saat kelak.”


“Kekurangan adalah hal yang tidak penting ketika seseorang memiliki KELEBIHAN di lain sisi”




DAFTAR BACAAN
REFRAMING kunci hidup bahagia 24 jam sehari by R.H Wiwoho
KOMUNIKASI dahsyat dengan hypnosis by Andrie Setiawan
Mendidik sesuai dengan minat dan bakat anak by Bunda Lucy




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar